“Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan
kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah
seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik,
Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.”
(Ki Hajar Dewantara)
Ki Hajar Dewantara telah
menyampaikan bahwa maksud dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan
kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia maupun anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki
kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan
belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara
maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam
prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia.
Setiap murid yang duduk di kelas kita adalah individu yang unik dan ini seharusnya
menjadi dasar dari praktik-praktik pembelajaran yang kita lakukan di kelas dan di
sekolah, serta menjadi kerangka acuan saat mengevaluasi praktik-praktik pembelajaran
kita.
Dengan meyakini bahwa setiap anak adalah unik, maka sebagai pendidik, kita semua juga
tentu harus membuka mata terhadap adanya keberagaman murid-murid di kelas kita.
Saat berbicara tentang keberagaman murid, maka tentu saja cakupannya sangat luas.
Keberagaman murid mungkin dapat berupa:
- murid-murid kita yang berasal dari keluarga kurang mampu yang tidak dapat
mengakses teknologi dari rumah sehingga tidak bisa berpartisipasi dalam
pembelajaran daring;
- murid-murid yang memiliki kesulitan memahami bahasa yang digunakan di kelas,
karena ia murid yang baru pindah dari daerah lain;
- murid-murid yang bosan karena ia sebenarnya telah menguasai keterampilan
yang diajarkan, sehingga pembelajaran tidak menantang lagi untuknya;
- murid-murid yang saat ini sedang berjuang keras untuk mencoba memahami apa
yang diajarkan, namun karena adanya kesenjangan yang terlalu jauh antara apa
yang ia mampu lakukan dengan apa yang sedang dipelajari, akhirnya ia tidak bisa
membuat koneksi;
- murid kita yang hasil-hasil kerjanya tampak baik, namun di sisi lain memiliki
masalah sosial emosional;
- murid kita yang memiliki minat yang besar terhadap bidang tertentu;
- murid-murid kita yang memiliki kesulitan-kesulitan dalam belajar;
- Dan sebagainya.
Melihat betapa luas keberagaman murid-murid kita, maka sebagai guru, kita perlu
berpikir bagaimana caranya kita dapat menyediakan layanan pendidikan yang
memungkinkan semua murid mempunyai kesempatan dan pilihan untuk mengakses apa
yang kita ajarkan secara efektif sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sebagai pendidik, dengan meyakini bahwa tugas kita adalah melayani murid-murid
dengan segala keberagaman tersebut serta menyediakan lingkungan dan pengalaman
belajar terbaik bagi mereka, maka berarti kita juga harus meyakini bahwa:
1. semua murid kita bisa berhasil dan sukses dalam pembelajarannya.
2. fairness is not sameness. Bahwa bersikap adil itu bukan berarti menyamaratakan
perlakuan kepada semua murid.
3. setiap murid memiliki pola belajarnya sendiri yang unik.
4. praktik-praktik pembelajaran perlu ditelaah efektifitasnya lewat bukti-bukti yang
diambil dari pengalaman demi pengalaman.
5. guru adalah kunci dari keberhasilan pengembangan program pembelajaran
murid-murid di kelasnya.
6. guru membutuhkan dukungan dari komunitas yang lebih besar untuk
menciptakan lingkungan belajar yang mendukung semua siswa.
Fakta bahwa murid-murid kita memiliki karakteristik yang beragam, dengan keunikan,
kekuatan dan kebutuhan belajar yang berbeda, tentunya perlu direspon dengan tepat.
Jika tidak, maka tentunya akan terjadi kesenjangan belajar (learning gap), dimana
pencapaian yang ditunjukkan murid tidak sesuai dengan potensi pencapaian yang
seharusnya dapat ditunjukkan oleh murid tersebut. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk merespon karakteristik murid-murid yang
beragam ini adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi.
Apa itu pembelajaran berdiferensiasi?
Kaitan dengan Standar Pendidikan Nasional
Di dalam Standar Kompetensi Lulusan dijelaskan mengenai kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang
harus dikuasai oleh peserta didik setelah menyelesaikan masa belajarnya di jenjang
pendidikan tertentu. Kompetensi lulusan ini merupakan profil dari kualifikasi
lulusan yang diharapkan terwujud dalam diri peserta didik dan merupakan
ejawantah dari apa yang diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional. Untuk
dapat mewujudkan profil kualifikasi lulusan seperti yang dijabarkan dalam
Standar Kompetensi Lulusan tersebut, maka diperlukan suatu upaya untuk
mengembangkan potensi peserta didik dengan semaksimal mungkin. Pembelajaran
berdiferensiasi akan memungkinkan guru memaksimalkan potensi peserta didik
dengan meminimalisir kesenjangan belajar (learning gap) melalui proses
identifikasi kebutuhan belajar murid yang tepat. Lewat pembelajaran
berdiferensiasi, tidak hanya murid berkembang potensinya secara maksimal,
namun proses pembelajaran juga akan lebih memberikan banyak ruang bagi murid
untuk membuat dan menentukan pilihan dan memberikan suara, sehingga proses
belajar akan menjadi lebih menyenangkan